Type to search

ASPIRASI INFO

LPG 3 Kg Kembali Langka di Kabupaten Wajo, Mahasiswa Protes

LPG 3 kg kembali langka di Kabupaten Wajo. Sejumlah mahasiswa pun mendatangi Kantor DPRD Wajo untuk menyampaikan hal tersebut, Kamis (3/10/2019).

“Gas langka, ada gas, tapi sudah ada yang pesan, ini miris padahal Wajo sebagai penghasil gas tapi masyarakat kesulitan,” kata salah seorang mahasiswa, Supris Musyafir.

Selain itu, Supris menyanyangkan, harga tabung gas bersubsidi tersebut acapkali melonjak tinggi dan jauh dari harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan.

Sesuai SK Gub Sul-Sel nomor 6 tahun 2015, HET yang telah ditentukan yakni Rp 15.500.

“Di pangkalan justru dijual 16 ribu,” katanya.

Selain itu, Supris pun menuding adanya agen yang bermain yang mengakibatkan masyarakat di Wajo menderita mencari gas bersubsidi tersebut.

“Kita juga sering dapat informasi kalau gas yang ada di Wajo di bawah ke daerah lain,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Kabag Ekonomi Setda Kabupaten Wajo, Andi Muzdalifah menjelaskan peruntukan LPG 3 kg tersebut.

“Peruntukan gas 3 kilo itu adalah untuk warga miskin, penghasilan sekitar 1,5 juta perbulan atau pelaku usaha mikro dan terakhir tambahan nelayan,” katanya.

Dirinya pun mengaku heran jika LPG 3 kg langka di Kabupaten Wajo, mengingat kuota LPG Wajo adalah yang terbesar ke 4 di Sulawesi Selatan, setelah Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bone.

Dari data Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Wajo, kuota LPG 3 kg Kabupaten Wajo pada 2019 ini yakni 456.667 tabung, sementara realisasi hingga semester pertama, mencapai 2.387.720 tabung.

“Masalahnya di pengecer, dan kami sudah sampaikan ke agen untuk menyampaikan ke pangkalan agar tak menjual lebih banyak ke pengecer,” katanya.Senada dengan hal tersebut, Checker LPG PT Pertamina (Persero), Rudi P mengatakan, pengawasan pendistribusian LPG dari pihaknya hanya sekadar sampai di pangkalan.

Namun, apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh agen maupun pangkalan, seperti melakukan penyelundupan ke daerah lain, menaikkan harga di atas HET, serta mendistribusikan tak sesuai dengan peruntukan bakalan ditindak.

“Silakan laporkan dan kami dari Pertamina akan menindaknya, karena di Wajo ini sudah ada 1 pangkalan yang kami putus hubungan usahanya karena terbukti melanggar,” katanya.

Rudi pun menyebutkan, terkait pangkalan yang menjual LPG 3 kg dengan harga Rp 16.000 per tabung masih mendapatkan kebijakan.

“Kalau jualnya 16 ribu itu masih bisa kita terima, karena sekarang koin 500 itu agak susah, kecuali kalau sudah di atas 16 ribu itu sudah di atas kewajaran,” katanya.

Kelangkaan LPG 3 kg di Kabupaten Wajo bukanlah yang pertama di 2019 ini. Sebelumnya, awal tahun ini, gas melon tersebut langka dan membuat masyarakat menjerit.

Pada pertengahan tahun ini, LPG tersebut kembali langkah dan harga ecerannya pernha mencapai Rp 50.000/tabung.

Kini, awal Oktober 2019 tersebut, hal serupa kembali terjadi.

Ketua sementara DPRD Wajo, Andi Muhammad Alauddin Palaguna menyebutkan, seluruh aspirasi masyarakat akan ditampung dan akan dibahas setelah alat kelengkapan dewan terbentuk.

“Semua aspirasi hari ini kita akan tindaklanjuti jika sudah ada terbentuk komisi, dan Insya Allah mahasiswa pun akan diundang untuk membahas hal tersebut,” katanya.

Diketahui, mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wajo tak cuma menyoal pengoperasian minimarket berjaringan di Kabupaten Wajo.

Ada banyak masalah yang didera masyarakat da disoal oleh mahasiswa, seperti pelayanan PDAM yang tidak bagus.

Dana CSR sejumlah perusahaan yang tak transparan, izin minmarket berjaringan, serta pengoperasian rumah bernyanyi di Kabupaten Wajo.

Laporan : Humas DPRD Wajo

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *